http://politik.kompasiana.com/2015/01/16/jangan-tinggalkan-jokowi-saat-dia-di-posisi-sulit-702357.html
Hebat kali jenderal polisi yang satu ini. Gara-gara ambisinya mau
jadi Kapolri, negeri ini jadi ribut. Punya kartu As apa, sih dia?
Sampai-sampai parpol dan DPR ngebet pengen dia yang jadi?
Hebatnya lagi, Presiden aja bisa tak berkutik; seperti disandera atau
seperti makan buah simalakama dibuatnya.Jokowi Dibuatnya galau.
Tekanan dan kecaman bertubi-tubi dari segala arah menghantam
idenpendensinya sebagai pemimpin. Bahkan Jokowi jadi seperti Tersangka
Politis di mata publik pendukungnya.
Mendingan kalo si Jenderal itu bersih kinclong tak berkasus, tinggal
diaminin saja semulus prestasi akademik dan kariernya. Tapi dengan
status Tersangka itu apa yang bisa dibanggakan dari Intergritasnya? Apa
yang bisa diharapkan dari kerjanya? Yang terjadi malah perpecahan di
jagat anak negeri.
Status sebagai Tersangka jenderal Budi Gunawan menandakan dia bukan
polisi bersih. Status itu bukan hanya rumor semata, tapi resmi oleh KPK.
Selama ini KPK tidak main-main menetapkan seorang menjadi tersangka,
lembaga ini punya bukti kuat.
Hal yang mengerikan dari semua itu adalah hilangnya dukungan rakyat
kepada Presiden Jokowi. Karena dukungan rakyatlah yang membuat Jokowi
selama ini kuat dari hantaman politik licik anggota DPR.
Kalau sampai rakyat tak lagi memberikan dukungan maka Jokowi makin
lemah dan hancur. Inilah yang ditunggu-tunggu lawan politiknya di DPR
dan parpol yang kalah pilpres lalu. Selain itu, segala program kerja
presiden yang lain tak lagi bisa dijalankan sesuai target di sisa masa
jabatannya yang masih relatif panjang. Bisa jadi malah jatuh ditengah
jalan.
Siapa yang untung? Jelas DPR karena itu yang lama ditunggu-tunggu.
Siapa yang rugi? Jelas rakyat, karena pembangunan jadi tersendat hanya
untuk ngurusin akrobat para politikus yang tak beretika itu.
Jokowi mungkin kali ini tersandera dan tak berkutik karena politis.
Tapi itu hanya sesaat, karena dia bukan orang bodoh. Kalaupun nanti
terpaksa harus melantik si Jenderal itu, anggap saja Jokowi sedang
mundur satu langkah ke belakang. Toh proses hukum si Jenderal tetap
berjalan ditangan KPK. Selama ini muara hukumnya sudah jelas.
Jadi, jangan tinggalkan Jokowi saat dia di posisi sulit. Tetaplah
dukung beliau dalam suka maupun duka, dalam untung dan malang. Rakyat
jangan ikut-ikutan tersandera ulah Jenderal Budi Gunawan bersama
kelompok pendukungannya. Masih banyak program pembangunan lain yang
harus dikerjakan Jokowi sembari menunggu si Jendral secepatnya menuju
takdirnya di tangan KPK akibat ulahnya sendiri.
Berteriaklah engkau mengingatkan Jokowi. Tapi jangan biarkan dia
lemah dan jatuh, dan tak ada lagi yang bisa menahan masuknya kelompok
angin jahat merebut dan memporak-porandakan banguna tubuh negara dan
pemerintahan. Kalau sudah begitu, kembali rakyat yang rugi besar.
Salam persatuan
Referensi berita;
http://nasional.kompas.com/read/2015/01/15/22375641/Istana.Minta.Relawan.Pahami.Posisi.Sulit.Presiden.Jokowi
http://nasional.kompas.com/read/2015/01/15/20535181/Relawan.Dua.Jari.Kalau.Budi.Gunawan.Dilantik.Kami.akan.Teror.Terus.
http://nasional.kompas.com/read/2015/01/15/20223331/Abraham.Samad.Tetap.Lantik.Budi.Gunawan.Jokowi.Langgar.Tradisi.Ketatanegaraan
http://nasional.kompas.com/read/2015/01/16/08484461/Jokowi.Diingatkan.Ada.Dampak.Serius.jika.Tetap.Lantik.Budi.Gunawan
http://politik.kompasiana.com/2015/01/16/jangan-tinggalkan-jokowi-saat-dia-di-posisi-sulit-702357.html
xxxxxxxxxxxxxx
Indikasi bahwa Calon Kapolri Budi Gunawan diusulkan oleh PDIP sangat
jelas. Bahkan partai pemenang pemilu ini mendesak agar Budi Gunawan
segera dilantik menjadi Kapolri setelah paripurna memberikan
persetujuan. Tidak ada alasan bagi Jokowi untuk mengelak lagi. Meski
para pendukungnya berusaha menentang keputusan tersebut. Sepertinya
Jokowi terpaksa menggunakan hak prerogatifnya sebagai presiden.
Pemaksaan ini mengesankan bahwa PDIP punya hutang budi pada Budi
Gunawan. Sebuah hutang yang harus dibayarkan karena ada perjanjian kuat
yang mengikat mereka. Hutang itu pastilah menyangkut pertarungan pada
pilpres 2014 yang dimenangkan Jokowi. Kita ingat betapa ketatnya
persaingan itu sehingga masing-masing kubu menggunakan segala daya yang
memungkinkan agar dapat menjadi pemenang. Salah satunya adalah menerima
bantuan dari orang-orang yang mempunyai sumber daya.
Bantuan para pendukung terdiri dari tiga macam. Pertama, bantuan
tenaga. Orang-orang yang bekerjasebagai sukarelawan bergerak
mengkampanyekan Jokowi ke masyarakat. Mereka membentuk berbagai
organisasi dan menggerakkan massa. Kedua adalah bantuan pikiran.
Terutama dari orang-orang yang terkenal brilian di bidangnya
masing-masing, membantu Jokowi menyiapkan materi program, baik itu
tentang sosial, ekonomi, politik dll. Mereka juga memberikan ide-ide
segar yang dapat digunakan oleh Jokowi.
Bantuan ketiga adalah bantuan keuangan. Bukan rahasia lagi jika
kampanye pilpres menyedot dana yang luar biasa. Hal ini tak mungkin
ditanggung Jokowi dan PDIP saja. Mereka membutuhkan sokongan dana dari
berbagai pihak, yang biasanya main di belakang layar. Para penyumbang
dana ini biasanya memang tidak pernah terdengar atau memperlihatkan
diri di depan umum. Di dalam tubuh partai sendiri belum tentu bannyak
yang tahu. Urusan donatur hanya diketahui elite partai yang
bersangkutan.
Konsekuensi dari menerima bantuan adalah harus membayar kembali.
Memang benar ada yang ikhlas membantu tanpa bayaran apa pun. Tetapi
hanya berlaku bagi orang-orang kecil. Sedangkan orang-orang yang biasa
berkecimpung dalam pusaran politik tidak pernah memberikan bantuan
dengan gratis. Mereka membantu karena juga memiliki kepentingan. Dan
pada akhirnya harus ada bargaining positition sebagai suatu kesepakatan. Jika tidak, mereka akan menarik bantuan tersebut. Seperti kata Uya dalam game deal or not deal.
Nah, Budi Gunawan tampaknya adalah salah seorang yang memberikan
bantuan dengan deal tertentu. Mengingat bahwa isu mengatakan bahwa dia
adalah jenderal dengan rekening gendut, maka kemungkinan besar dia
menjadi kantong dana PDIP. Budi Gunawan menjadi salah satu donatur atau
penyumbang dana terbesar untuk kampanye pilpres PDIP dalam rangka
memenangkan Jokowi. Walau dia juga bisa memberikan bantuan dalam bentuk
lain, misalnya mengerahkan aparat kepolisian untuk menjaga perolehan
suara pilpres.
Mengapa Jenderal Polisi yang menjadi salah satu penyumbang terbesar?
Sejak dahulu ada kabar burung bahwa PDIP, dekat dengan institusi
kepolisian, terutama sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri.
Kesepakatan ini akhirnya menjebloskan Jokowi dalam situasi yang tidak
menguntungkan, karena bagaimana pun dia diberangkatkan sebagai capres
oleh PDIP. Ketika PDIP menyodorkan nama Budi Gunawan sebagai calon
tunggal Kapolri, Jokowi terpaksa mengiyakan meskipun telah diperingatkan
oleh KPK. Berhubung rapat paripurna telah meloloskan Budi Gunawan,
Jokowi harus menelan pil pahit.
http://politik.kompasiana.com/2015/01/16/apakah-bg-donatur-kampanye-pilpres-pdip-717247.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar