Minggu, 18 Januari 2015

Pengaruh Proyek Perluasan Masjidil Haram di Mekkah Terhadap Situs - Situs Bersejarah Umat Islam


RUMAH NABI DI MEKKAH SUDAH DI HANCURKAN

Pemerintah Arab Saudi atas pengaruh Ulama Salafi Wahabi sudah menghancurkan rumah tempat Nabi lahir dan dirubah jadi perpustakaan. Sementara rumah Nabi saat tinggal dgn Siti Khadijah r.a di Mekkah dirubah jadi WC Umum. Bukankah ini penghinaan? Sekarang pun muncul kabar bahwa Makam Nabi di Masjid Nabawi mau dihancurkan meski Redaktur Koran Saudi, Mekkah mengatakan yang benar adalah diisolasi (Isolated) sehingga ummat Islam tidak bisa menziarahi Nabi. 2 Rumah Nabi sudah dihancurkan karena dianggap bisa menjadikan ummat Islam musyrik. Sementara Hotel Hilton yang luasnya ratusan kali lipat berdiri megah di samping Masjidil Haram. Selama lebih dari 1000 tahun rumah-rumah Nabi berhasil diselamatkan oleh para sahabat dan para ulama Salaf. Namun ulama Salafi Wahabi yang muncul sejak abad 18 Masehi mempengaruhi Raja Arab Saudi agar menghancurkannya dengan alasan agar ummat Islam tidak musyrik. Pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab memulai penghancuran makam sahabat Nabi. Korban pertamanya adalah Zaid bin Khattab. Saudara kandung Umar bin Khattab r.a: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Membuat bangunan di atas kubur menurut pendapatnya dapat menjurus kepada kemusyrikan. Lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk tujuan tersebut bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu. Sekarang gerakan penghancuran makam sahabat Nabi dilanjutkan oleh ISIS dan kawan-kawan. Media Massa Wahabi mengatakan yang paling getol menyebar isyu penghancuran peninggalan Rasulullah adalah orang Syi’ah: Irfan al-Alawi, sejarawan dan direktur eksekutif Yayasan Penelitian Warisan Islam yang bermarkas di Inggris. Menurut saya bagus jika ada orang, meski Syi’ah mencintai Nabi dan peninggalan Nabi. Aswaja selain mencintai sahabat seperti Abu Bakar r.a dan Siti ‘Aisyah r.a juga mencintai Nabi. Senang merayakan Maulid Nabi yang dibenci Wahabi sebagai bid’ah. Jadi wajar jika ummat Islam yang mencintai Nabi Muhammad merasa khawatir jika peninggalan Nabi seperti rumah dan makam Nabi sampai dihancurkan. Saudi lenyapkan lima peninggalan Nabi Muhammad Berikut lima situs peninggalan Muhammad yang telah dan bakal dihancurkan kerajaan Saudi dilansir dari pelbagai surat kabar the Daily Mail, Russia Today, dan theamericanmuslim.org berikut ulasannya. 1.Tempat lahir Nabi Muhammad digusur demi bangun istana kepresidenan Perusahaan pengembang di Arab Saudi yakni Grup Saudi Binladin milik keluarga kerajaan Saudi tahun lalu mengajukan proyek untuk menghancurkan tempat lahir Nabi Muhammad buat mendirikan tempat tinggal bagi imam Masjidil Haram dan istana kepresidenan. Jika disetujui maka proyek itu akan merenovasi masjidil Haram dengan membangun kompleks modern di lokasi diyakini tempat lahir Nabi. Proyek itu ditaksir bernilai miliaran dolar Amerika, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Jumat (21/2). Keluarga kerajaan Saudi selama ini menganut aliran Islam Wahabi sejak keluarga al-Saud berkuasa pada abad ke-19. Penguasa Saudi sejak lama menolak melestarikan peninggalan- peninggalan Nabi di Masjidil Haram karena beralasan bisa menimbulkan sirik terhadap Allah. “Tempat itu adalah peninggalan terakhir dari Nabi Muhammad, yakni tempat lahir beliau, lokasi paling suci bagi umat Islam dan komunitas Syiah di seluruh dunia,” kata Irfan al-Alawi, sejarawan dan direktur eksekutif Yayasan Penelitian Warisan Islam yang bermarkas di Inggris. 2.Penghancuran makam keluarga Rasulullah - 21 April 1925, pemakaman Jannatul Baqi tempat keluarga Nabi Muhammad dimakamkan dihancurkan oleh Raja Abdul Aziz bin Saudi dari Arab Saudi. Di sini terbaring Shafiah (bibi Rasulullah), Ibrahim, putra baginda nabi, dan masih banyak lagi, termasuk putra Umar bin Khattab, dan ibu Ali bin Abi Thalib, Fatimah binti Asad. Saudi beralasan butuh banyak pengeluaran merawat dan merekonstruksi makam-makam itu sebab bangunannya sudah banyak yang rusak. Sangat boros membuang uang negara untuk memperbaiki kuburan. Tak berapa lama kemudian setelah memberikan alasan keuangan, pemerintah Saudi membangun hotel mewah dengan jam raksasa di atasnya di sekitaran Kabah. 3.Rumah Khadijah jadi jamban Perluasan Masjid Al-Haram, selain ada rumah nabi yang kini berubah jadi perpustakaan masjid, ternyata juga terdapat rumah Siti Khadijah, istri baginda Rasulullah. Lebih parah dari nasib rumah Nabi Muhammad SAW, bangunan didiamin Khadijah di masa lalu ini berubah jadi toilet. Toilet mempunyai persamaan dengan ruang kecil dipakai untuk buang kotoran. Ini dianggap penghinaan atas istri Rasulullah itu. 4.Rumah pernah ditinggali Muhammad SAW jadi perpustakaan Dalam dua dekade terakhir, the Gulf Institute yang berpusat di Ibu Kota Washington D.C., Amerika Serikat, mencatat Riyadh telah melumatkan 95 persen dari seluruh bangunan berusia lebih dari seribu tahun di Mekkah dan Madinah. Perluasan Masjid Al-Haram juga mengundang protes dan kecaman pelbagai pihak. Di sekitar Kabah kini bermunculan pelbagai pusat belanja, hotel, dan gedung jangkung. Di sana kini terdapat kompleks Jabal Umar, terdiri dari apartemen, hotel, dan menara jam tertinggi sejagat. Buat mewujudkan proyek ini, Saudi membuldoser benteng Ajyad dibangun di masa kekhalifahan Usmaniyah. Di kompleks ini ada rumah nabi kini berubah menjadi perpustakaan masjid 5.Rencana penghancuran makam Rasulullah Pemerintah Arab Saudi bakal menghancurkan makam Nabi Muhammad. Pusara Rasulullah itu terletak di dalam masjid paling suci kedua setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah. Tujuannya untuk memperluas Masjid Nabawi.? Pembangunan masjid itu memang diperlukan, tapi rencana pemerintah Negeri Dua Kota Suci itu sungguh mencemaskan sebab perluasan bakal dilakukan di sebelah Barat, tempat makam Rasulullah bersama dua sahabatnya, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Rencana ini dinilai bakal membuat banyak pihak murka dan umat Islam bakal bergejolak.


----------------------------

PROYEK PERLUASAN DI MEKKAH : ANTARA PERHATIAN TERHADAP ISLAM DAN PENGHANCURAN SITUS BERSEJARAH

Salah satu peninggalan Utsmani di Masjidil haram, Mekkah, Arab Saudi, kini sedang menuai perdebatan, antara mereka yang menginginkan melestarikan situs bersejarah di Saudi dan pihak berwenang yang akan melakukan perluasan dan pengembangan tempat ibadah.
Peninggalan bersejarah dari era Utsmani ini, yang telah ada sejak abad ketujuh belas, adalah salah satu bagian tertua dari unsur Masjidil Haram, dan akan di hapus sebagai akibat dari perluasan yang terjadi di masjid karena peningkatan jumlah Jama’ah.
Irfan Alawi, ketua dari sebuah lembaga yang bekerja untuk melindungi situs bersejarah di Arab Saudi, menuduh pihak berwenang Saudi yang menyebabkan apa yang ia sebut sebagai “sabotase budaya”. Ia mengatakan bahwa sebagian besar arsitektur penting dari Mekkah dan Medinah hilang karena operasi pemeliharaan dan perluasan.
Meskipun Alawi yang merupakan sejarawan dan saat ini bertempat tinggal di London, membenarkan adanya cara yang lebih baik untuk menangani hal tersebut, ia berkata,”saya tidak menentang adanya perluasan di Masjidil Haram, namun mereka dapat melakukannya tanpa merusak tempat-tempat sejarah dan arkeologi, tetapi jelas bahwa pemerintah Saudi tidak tertarik terhadap aspek ini sama sekali.
Alawi mengatakan bahwa kecaman terhadap perusakan tempat bersejarah di Saudi bertambah.
Pihak berwenang Turki telah menyatakan keprihatinan tentang penghapusan situs bersejarah, dan Kementerian Luar Negeri Turki mengaskan bahwa mereka telah membicarakan masalah ini dengan pemerintah Saudi sejak 2010.
Pihak Manajemen Museum dan Fasilitas budaya Turki mengatakan kepada CNN, bahwa “sangat penting untuk melindungi peninggalan bersejarah, yang mengingatkan kita pada perkembangan Ustamani pada periode tersebut.
CNN telah mencoba untuk menghubungi Departemen Urusan Islam Arab Saudi, dan sejumlah pejabat Saudi, termasuk Gubernur daerah Mekkah dan kedutaan Saudi di London, tetapitidak mendapat respon apa pun dari pihak berwenang.
Ini bukan pertama kalinya pemerintah Saudi bersebrngan dengan Turki tentang penghapusan bangunan bersejarah era Ustamani, dimana Turki menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari kerjasama dalam bidang budaya besejarah.
Pada tahun 2002, Ankara mengungkapkan kemarahannya atas penghancuran sebuah benteng peninggalan Utsmani, yang dibangun diatas sebuah bukit yang menghadap Ka’bah pada akhir kedelapan belas.
Hal tersebut dilakukan untuk memberikan ruang tambahan bagi bangunan pencakar langit di sekitar Masjidil Haram di Mekkah saat ini, hal itu mendorong Menteri Kebudayaan Turki, Astmihan Talay, menyebut apa yang dilakukan Arab Saudi sebagai “tindakan Barbar.
Sejak sepuluh tahun terakhir ini, wajah Mekkah memang telah berubah secara signifikan, dimana kawasan sekitar Masjid suci penuh dengan bangunan modern, terutama “makkah Clock,” yang merupakan sebuah hotel 120 lantai, mirip dengan bentuk bangunan London Big Ben.

Beberapa kelompok Salafi mendukung perluasan tersebut, seperti Ansor Sunnah Muhammadiyah di Mesir, dimana Sekjen Ahmad Yusuf mengatakan. “kami tidak mensucikan tempat-tempat atau individu, seorang muslim berpegang pada Al-Quran dan Sunnah, dan tidak ada tempat yang lebih suci daripada Ka’bah.sehingga saudi memutuskan untuk memperluas masjid karena mereka peduli dengan Islam dan Muslimin melebihi dari peninggalann tersebut.
Lembaga-Lembaga di Teluk, yang berbasis di Amerika Serikat, memperkirakan bahwa 95% dari bangunan bersejarah peninggalan Ustmani telah dihapuskan dalam dua dekade terakhir ini, sementara pihak berwenang Saudi mengatakan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari rencana modernisasi kota untuk melayani para jama’ah haji.
Sebagaimana si Mekkah, pihak berwenang saudi juga akan berusaha mengambangkan kota Madinah, dan Masjid Nabawi secara khusus.
Pada tahun 1925, pemerintah Saudi telah menghancurkan beberapa peninggalan di kuburan Baqi’. dimana disana dikuburkan sebagian besar istri-istri Nabi Muhammad SAW, dan anak-anaknya serta kerabat, sebagaimana Saudi juga menghancurkan sebuah Rumah Khadijah dan merubahnya mejadi bagian dari pemandian umum bagi para jama’ah haji, dan sebuah Situs yang diyakini tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, telah berubah menjadi pasar ternak sebelum akhirnya dirubah menjadi perpustakaan. (hr/CNN/www.globalmuslim.web.id)


------------------------------


Prihatin Melihat Situs-situs Bersejarah yang Dihacurkan

Tekhnologi pada zaman dahulu bisa dikatakan belum banyak ditemukan bahkan hampir tidak ada dan peradaban yang begitu sulit serta cara hidup yang begitu berat. Bahkan ilmu science pun belum ditemukan pada saat itu. Namun, banyak sekali peradaban maju pada saat itu yang bisa dikatakan memiliki peradaban yang maju dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi tentang cara serta tatanan hidup yang menjamin bahwa mereka akan bertahan pada peradaban masa lalu.
Banyak situs-situs peninggalan sejarah pada peradaban masa lalu yang hingga kini masih terawat dan tetap terjaga keasliannya dan ada pula yang telah hilang entah karena dicuri ataupun yang lainnya.
Salah satunya yaitu Negara Belanda. Tidak sedikit peninggalan-peninggalan sejarah di Indonesia dimiliki oleh Belanda. Karena Belanda pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Menurut Ryvo Octaviano, acara yang diinisiasi PPI Leiden dan PPI Belanda menawarkan konsep “penjelajahan” lokasi-lokasi bersejarah di Kota Leiden yang memiliki kedekatan historis dengan Indonesia. Sekitar sepuluh spot dipilih sebagai lokasi, di antaranya adalah rumah antropolog Snouck Hurgronje dan kediaman Achmad Soebardjo (menteri luar negeri pertama Indonesia). Beberapa nama seperti Parlindoengan Loebis, R.M. Sosrokartono, R. Soemitro dan Soetan Casejangan Soripada cukup asing karena tidak terlalu mendapat banyak porsi dalam historiografi Indonesia. |Namun, siapa sangka ternyata mereka pernah berjuang demi terbentuknya konsep “Indonesia” ketika mereka berstatus sebagai mahasiswa Leiden,” ujarnya.
“Siapa sangka pula puisi Chairil Anwar dan Ranggawarsita terpampang gagah menghiasi sudut Kota Leiden,” katanya.
Dalam ruangan kecil museum yang telah berusia 176 tahun tersebut tersimpan koleksi arca-arca asli peninggalan Kerajaan Singasari, puluhan keris dengan ornamen yang sangat indah (salah satunya merupakan keris yang digunakan oleh Cut Nyak Dien).
Selain itu juga terdapat boneka-boneka yang merepresentasikan keragaman suku di Indonesia yang merupakan hadiah untuk Ratu Wilhelmina, serta beragam koleksi menarik lainnya. “Kami juga beruntung karena pada saat yang sama, kami juga berkesempatan melihat eksibisi ’Een Huis vol Indonesie’ yang baru saja dibuka di museum etnologi tertua di dunia tersebut,” ujar Ryvo.
Dengan adanya pendekatan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda, ada beberapa arca dan lontar yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi sudah dikembalikan meskipun tidak semuanya. Disisi lain mungkin, Belanda ingin memuseumkan beberapa peninggalan-peninggalan yang dulu pernah mereka jajah di Indonesia untuk dijadikan sebagai bukti penjajahannya pada masa itu.

BAGHDAD, (PRLM).- Lebih dari 600 barang antik dikembalikan ke Museum Nasional Irak setelah ditemukan di dalam kotak-kotak di kantor Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Beberapa dari artefak bersejarah yang berusia ribuan tahun itu dulu diseludupkan ke luar dari Irak dalam periode waktu tertentu sebelum ditemukan di Amerika Serikat. Mereka kemudian dikembalikan ke Irak awal 2009 namun menghilang.
Artefak yang ditemukan antara lain berupa permata, patung perunggu, maupun lempengan tanah liat. Direktur Museum Nasional Irak, Amira Eidan, mengatakan temuan tersebut merupakan koleksi yang penting. “Beberapa berasal dari awal era Musim dan yang lainnya dari masa Sumerian, sebagian dari Babylonia, Hellenistik -periode berbeda dan kota berbeda,” menurut Menteri urusan Barang Purbakala Irak, Qahtan al-Jubouri, yang dikutip “BBC”
Ribuan artefak termasuk yang menggambarkan masa 7.000 kebudayaan di Mesopotamia dicuri dari Irak pada masa kekacauan saat invasi pimpinan Amerika Serikat tahun 2003. Walau ditempuh upaya internasional untuk melacaknya, tak sampai setengah dari artefak itu yang berhasil ditemukan kembali.
Sejak invasi AS untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein berlangsung 7 tahun lalu, sebanyak 15.000 relik dijarah. 638 Artefak di antaranya diserahkan ke PM, namun dinyatakan hilang lagi.
Kalangan sejarawan menganggap Irak telah kehilangan warisan budaya nasional setelah terjadinya aksi penjarahan massal tahun 2003 itu. Padahal Irak adalah salah satu tempat lahirnya peradaban di muka bumi ini. Ratusan benda antik yang kini kembali termasuk patung tanpa kepala raja Sumeria yang dikoleksi Saddam. Selain itu adalah tembikar, cangkir kaca, manik-manik dari periode sejarah Mesopotamia.
Irak juga menemukan 500 artefak antara lain patung kepala Raja Sumeria, Entemena dan senjata AK-47 milik Saddam Hussein.
Apabila suatu Negara tidak memiliki situs-situs peninggalan sejarahnya, maka besar kemungkinannya sejarah atau bahkan peninggalan-peninggalan yang dimiliki oleh suatu Negara tersebut bisa dicuri dan diklaim sebagai miliknya.
Tidak hanya itu, semua situs Islam di Saudi perlahan demi perlahan mulai punah bahkan dihilangkan.Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melukiskan peristiwa itu 1400 tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan terdahulu, situasi Madinah saat ini, dengan bangunan-bangunannya modern, tampak bertolak belakang dengan hadits yang menyebutkan bahwa Madinah akan mengalami penghancuran.
Namun, dengan pencermatan yang lebih saksama, kita mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus menyebutkan bahwa Yatsrib, bukan Madinah, akan dirusak.
Pernyataan Nabi yang sangat akurat itu mengungkapkan makna yang bisa dipahami dalam konteks modern. Yatsrib adalah kota Nabi tempat munculnya cahaya pengetahuan yang menyinari dunia. Ia merupakan tempat berdirinya pemerintahan Islam yang pertama, dan sumber banyak prestasi para sahabat.
Kharâb Yatsrib berarti bahwa peradaban kota tua Madinah (yang dulu dikenal dengan nama Yatsrib) akan rusak. Dampaknya adalah bahwa segala peninggalan klasik dan tradisional dalam Islam akan dihancurkan pada masa-masa sebelum datangnya Kiamat.
Pengrusakkan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang menyebarkan versi Islam dengan pemahaman yang dangkal, yang mendiskreditkan dan meremehkan tradisi-tradisi klasik. Kini, kita menyaksikan kemunculan sekelompok orang yang menentang setiap aspek Islam tradisional, Islam arus utama, yang telah dipelihara oleh umat Islam selama lebih dari 1400 tahun. Kelompok tersebut ingin mengubah seluruh pemahaman keagamaan dengan menawarkan Islam “modernis” mereka.
Orang-orang tersebut merupakan kelompok minoritas di tubuh umat Islam.  Gagasan-gagasan mereka yang penuh penyimpangan telah disanggah dan ditolak dari berbagai sisi oleh para ulama Islam, seperti yang telah banyak ditulis orang. Tidak ada yang namanya Islam itu dimodernkan, diperbaiki, ataupun dibenahi.  Islam adalah agama yang sempurna, sejak pertama kali dibawa oleh Nabi MuhammadShallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga Hari Kiamat.
Mereka (kaum Wahhabi) yang mengklaim diri sebagai “pembaharu Islam” berusaha menyuguhkan hal-hal baru untuk menggantikan dan menghapus hal-hal klasik dan tradisional dalam Islam.
Aliran Wahhabi inilah yang pertama kali mengajukan pemahaman yang sepenuhnya baru tentang Islam, dengan kedok “pemurnian” Islam.
Ideologi Wahhabisme ini telah merusak Islam tradisional atas nama “pemurnian” Islam, seakan-akan semua orang Islam sebelum munculnya Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb telah tersesat.
Alih-alih membawa pemurnian, ia justru telah menghancurkan ilmu-ilmu dan praktik keislaman yang telah berakar selama berabad-abad. Semua hal yang telah diwariskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan generasi Islam sepeninggal beliau tiba-tiba dicap sebagai bentuk penyembahan berhala (syirik) yang harus dimusnahkan.
Orang-orang Islam yang melaksanakan ibadah haji dijejali dengan bahan-bahan bacaan dan propaganda mereka, sehingga para jemaah itu menganggap bahwa keyakinan dan praktik tradisional mereka bertentangan dengan Islam.  Sekte Wahhabi meragukan tradisi keilmuan yang telah berusia 1400 tahun, dan melontarkan tuduhan kufur, syirik, bidah, dan haram terhadap berbagai praktik dan pemahaman tradisional.
Kerusakan pertama yang menimpa Yatsrib adalah ketika Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb menghancurkan ilmu-ilmu “keislaman” dengan cara meracuni pemahaman orang-orang Islam terhadap agama mereka.
Ungkapan Kharâb Yatsrib yang kedua merujuk pada penghancuran fisik terhadap bangunan dan monumen yang berasal dari masa Nabi di Yatsrib, kota Madinah klasik. Di Madinah memang telah terjadi perluasan Masjidil Haram, tetapi kenyataan tersebut tidak bertolak belakang dengan ungkapan “Kharâb Yatsrib” karena hadits tersebut merujuk pada kota tua Madinah yang dikenal dengan Yatsrib, dan semua yang mewakilinya.
Segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan Nabi telah dipelihara oleh orang-orang Islam selama bertahun-tahun, apakah masjid tua, benda-benda sejarah, atau makam rasul, para sahabat, istri, dan anak-anaknya.
Meskipun orang-orang Islam selama berabad-abad sepakat bahwa situs-situs tersebut merupakan bagian penting dalam sejarah dan tradisi Islam, semuanya dihancurkan oleh aliran Wahhabi dengan menggunakan dalih bahwa “semua itu bukan lagi Islam”.
Pemahaman mereka yang dangkal terhadap Islam mengakibatkan penghancuran sejumlah benda peninggalan sejarah dan monumen. Kharâb berarti “penghancuran,” tetapi kata ini juga bermakna peruntuhan.”
Memang, kantong-kantong tradisi klasik masih ada, dan hendak dibangun kembali oleh umat Islam, tetapi mereka tidak diperkenankan membangunnya kembali, sehingga yang tersisa hanyalah reruntuhan dan puing-puing bangunan.
Tidak ada lagi orang yang mengetahui lokasi kuburan para sahabat. Di Gunung Uhud dekat Madinah, kita bisa menyaksikan puing-puing bangunan yang awalnya merupakan makam yang dilengkapi dengan kubah dan hiasan-hiasan indah. Dengan makam yang terlihat jelas, bangunan suci itu mengenang para sahabat yang gugur bersama Hamzah di Gunung Uhud.
Kini, hanya ada reruntuhan dinding yang diabaikan oleh para pengunjung.  Demikian pula halnya, sudah  tidak ada lagi bekas-bekas yang menunjukkan makam para syuhada Badar. Juga, tidak ada lagi tanda kuburan istri Nabi, Khadîjah al-Kubrâ di Jannat al-Mu’ala, Mekah.
Di Jannat al-Baqî’ (permakaman yang bersebelahan dengan makam dan Masjid Nabi di Madinah),makam ‘Utsmân, ‘Â’isyah dan sejumlah sahabat telah dipelihara oleh penguasa ‘Utsmani hingga awal abad ke-20, namun jejak-jejaknya kini telah dihilangkan. Hal itu merupakan  pengrusakan fisik terhadap peradaban Islam yang ada sejak zaman  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggal di Yatsrib.
Dengan perlahan-lahan dan diam-diam, para pengikut sekte Wahhabi telah melenyapkan semua hal yang terkait dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Islam tradisional, sehingga saat ini nyaris tak tersisa. Tindakan yang seperti ini dinilai sangat meresahkan umat islam dunia karena  Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh sentral dalam umat islam sepanjang hayat umat Islam akan menghormati dan meneladani Nabi Muhammad SAW jadi kecaman keras akan datang dari penjuru umat Islam dunia.
Demikianlah, kita Hanya Bisa Prihatin Melihat Situs-situs Bersejarah yang Dihacurkan.


-----------------------------


Sejak Dulu Makam Nabi Muhammad Memang Akan Dibongkar Wahabi

Makam Nabi Muhammad  SAW, yang menjadi salah satu tempat suci di Arab Saudi, terancam dipindahkan. Sebagaimana dilansir The Independent, sebuah harian surat kabar yang beredar di Inggris Raya yang menyatakan bahwa usulan itu berasal dari dokumen konsultasi yang dipimpin akademisi terkemuka Arab Saudi.
Dalam dokumen yang terdiri dari 61 halaman itu salah satunya berisiusulan untuk memindahkan makamNabi Muhammad ke area pemakaman Al-Baqi. Di Al-Baqi, makam Nabi akan dibuat anonim, atau tanpa batu nisan. Kabar mengenai usulan itu, kini telah beredar di kalangan pengelola Masjid Nabawi, Madinah, dan berpotensi memancing reaksi dariseluruh umat muslim di dunia.

Alasannya, tujuan pemindahan makam nabi tersebut untuk mencegah peziarah datang dan melakukan penghormatan ke makam, karena mereka percaya akan menyebabkan syirik, atau menyembah berhala, anggapan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran Wahabiyah, sebuah paham yang diikuti mayoritas masyarakat Arab Saudi. Padahal kalau menurut Hasyim Muzadi (Mantan Ketum PBNU), anggapan seperti itu tidak betul karena justru situs-situs tersebut penting untuk dijadikan bukti sejarah.
Pernyataan ini juga didukung oleh Ketum PBNU sekarang KH Said Aqil Siroj, yang mengatakan “dulu Komite Hijaz (1924-1925 ) yang merupakan cikal bakal terbentuknya NU juga melakukan gerakan menolak pembongkaran Kabah, makam Nabi Muhammad SAW, dan situs-situs lain di Arab Saudi”.
“Dari dulu sampai sekarang, kami menolak keras, mengecam keras (pembongkaran) itu,”
Menurut Irfan al-Alawi, Direktur Islamic Heritage Research Foundation
Ia mengatakan, dokumen konsultasi untuk Masjid Nabawi di Madinah yang dibuat oleh akademisi terkemuka di Arab Saudi seperti Ali bin Abdulaziz al-Shabal, Imam Muhammad bin Saud Islamic dari Universitas di Riyadh telah diedarkan kepada Komite Presidensi Dua Masjid.
Kemudian, Irfan memperingatkan setiap upaya mengubah tempat-tempat suci umat muslim dapat memicu kerusuhan dan berisiko menimbulkan ketegangan. (Ahmad Fatoni, Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU Jakarta)


-------------------------

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA DI BALIK PENGHANCURAN SITUS-SITUS SEJARAH ISLAM DI MAKKAH – MADINAH ?

MEKKAH — Beberapa situs paling suci bagi umat Islam, Mekkah, di Arab Saudi terancam punah.Pemerintah Kerajaan di Riyadh setuju dengan pembangunan Masjidil Haram menjadi kawasan megapolitan. Akibatnya, beberapa peninggalan sejarah Rasul Muhammad saw dinyatakan hilang.
The Independent baru-baru ini mengatakan upaya penyulapan kawasan Masjidil Haram menjadi kawasan elitis telah berlangsung sejak sepekan lalu.
Sebuah dokumentasi yang dilansir beberapa media internasional menunjukkan aktivitas pengerukan tanah di sebalah timur Ka’bah. Jejeran eskavator melubangi lahan dan membumihanguskan beberapa situs-situs bersejarah umat Islam.
Dikatakan, situs yang telah hancur adalah tempat Rasul Muhammad mengawali perjalanan Isra’ Mi’raj (620 M). Situs lain yang ikut dihancurkan adalah kolom peninggalan Dinasti Ottoman dan Dinasti Abbasiyah.
Di tempat-tempat tersebut, dikatakan menyimpan segudang peninggalan kejayaan Islam berupa dokumentasi kaligrafi (seni menulis ayat-ayat suci Al-quran) tertua di dunia. Tempat-tempat yang babak belur itu juga mengandung sejarah bagi masa Khulafaur Rasyidin (632 – 661 M).
Press Television mengatakan, Kerajaan Saudi mengklaim penghancuran situs-situs tersebut adalah bagian dari rencana pembangunan multi-miliar dolar. Pembangunan dikatakan untuk peningkatan kapasitas peziarah yang singgah ke Masjidil Haram.
Raja Saudi Abdullah juga menunjuk ulama Wahabi dan Imam Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais sebagai penanggungjawab pembangunan kali ini. Tercatat dalam kesepakatan, konsorsium bernama Binladin Group adalah sebagai pemenang tender pembangunan tersebut.
Binladin Group adalah salah satu anggota utama dalam lingkaran ekonomi terbesar di Arab Saudi.Konsorsium itu dikatakan menjadi pintu lebar bagi investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Tanah Arab.
Binladen Group juga menjadi kontraktor utama perluasan kompleks Masjid Nabawi di Madinah pada 2012 lalu. Pemerintah Kerajaan Saudi memang gemar meremajakan kompleks Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah. 
Saban tahunnya, miliaran dolar digelontorkan untuk ekspansi dan perluasan. Kerajaan berdalih ekspansi tersebut adalah untuk peningkatan layanan dan daya tampung peziarah. 
Memang, saban tahunnya jutaan umat muslim melangsungkan ritual keagamaan wajib di Makkah dan Madinah. Perluasan diperlukan lantaran semakin membludaknya jumlah jemaah.
Tahun lalu, pembangunan dan perluasan di Masjid Nabawi, sempat mendapat kecaman luas dari kelompok muslim dunia. Sebab konsorsium ini menyulap rumah Rasul Muhammad di kompleks masjid sebagai toilet umum.
Makam manusia tersuci bagi Umat Islam itu juga pernah terancam akan dibongkar untuk tujuan serupa. Bagi keluarga kerajaan dan Wahabi, situs-situs relijius tersebut berpotensi melunturkan nilai-nilai keagamaan, dan mendekati kemusyrikan.
Direktur Islamic Heritage Research Foundation,  Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai objek penghancuran.
Kata dia, penghancuran tiga situs penting Umat Islam kali ini adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Al-Alawi menuding Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah Umat Muslim.
Kritikus sejarah peradaban islam lainnya mengatakan, penghancuran situs-situs Islam adalah penghinaan. Press Television menggolongkan aktivitas penghancuran tersebut sebagai bagian dari agenda terselubung untuk menghilangkan rekam sejarah agama samawi terbesar ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar