Jumat, 16 Januari 2015

Mata Uang Kejujuran

http://edukasi.kompasiana.com/2014/11/29/mata-uang-kejujuran-706856.html

Mata Uang Kejujuran

“Jangan memaksa orang rajin dan sabar
untuk membantu orang malas dan lalai” –Owen- .
Argggggghhhh dosen dosen yang ada disana tolonglaahh saaayaaaaa.. sekali-lagi dan lagi catatan saya hilang melalang buana entah kemana setiap menjelang ujian. Siapa lagi pelakunya ya mahasiswa pemalas itu. maaf saya emosi. Bukan karna saya pelit meminjamkan catatan saya tapi karna catatan saya dipinjam untuk hal-hal yang tidak tidak. Ya betul untuk bahan contekan waktu ujian. Ada yang di foto trus dimasukkan handphone. Sampai difotokopi diperkecil. Catatan saya sebenarnya akan lebih baik dan saya ikhlas meminjamkannya jika itu dibuat belajar. Tidakkah anda-anda sadar dan memikirkaan bagaimana susahnya dan capeknya menulis semua materi dosen mulai dari power point sampai apa yang keluar di mulut dosen? Dan anda menggunakan catatan tersebut untuk hal yang kotor. Dasar mahasasiwa pemalas apa
bedanya anda dengan orang yang tidak sekolah dan tidak berpendidikan? Buat apa anda sekolah jika tujuan dan yang anda lakukan seperti itu? . Tujuan anda cari ilmu atau ijazah?. Kok susah sekali sih belajar ilmu?.
Maaf saya emosi, karena saya tidak tahu saya meluapkan dimana ya lebih baik saya meluapkan dalam tulisan untuk semua mahasiswa di seluruh Indonesia yang terbiasa hidup malas. Bagaimana anda menjadi agent of change jika dari hal kecil seperti ini saja anda tidak setia. Terkadang  saya juga jengkel melihat beberapa mahasiswa dengan atribut demo nya berdemonstrasi membela kepentingan rakyat eh ternyata di kampus sering titip absen,tugas tidak pernah dikerjakan,waktu ujian ngrepek dan mencotek. Apa yang bisa dicontoh? Bagaimana kita bisa membangun kultur intelektual?. Bagaiamana rakyat diluar sana menaruh harapan di punggung anda jika anda sendiri seperti itu?.
Saya rasa ini pr untuk menteri pendidikan dan orang tua . Bukan kurikulum nya yang harus dirubah tetapi mentalnya itu. dari mental tempe berkembang menjadi mental tikus nantinya. Budaya mencontek dikalangan siswa sepertinya sudah menjadi budaya yang mendarah daging di bumi pertiwi ini lalu berkembang menjadi budaya korupsi. Yang akhirnya sekolah hanya dipakai sebagai tempat formalitas untuk mencari titel bukan wadah untuk membangun genereasi yang berintelektual. Selain itu ini juga pr untuk dosen,pengajar dan pengawas tentunya yang harus lebih memutar otak bagaimana caranya budaya mencontek dapat dihilangkan apapun caranya. Titik.
Sekarang pikirkan saja anak yang pinta dan rajin terkadang harus memaksa dirinya untuk dispilin dan perjuangan mereka benar-benar sampai berkeringat darah kalau saya boleh bilang. Harus kalah dengan mereka anak-anak yang mengandalkan sogokan,suap,contekan,repek an dan bahkan menggunakan kerabat dalam. Hal ini sudah menjadi rahasia umum saya rasa. Bisa dilihat ketika masuk PTN,SMA,SMP Negeri. yang akhirnya mencuri hak teman kita sendiri. Saya melihat seperti kejujuran tidak ada nilainya di
Indonesia ini dan memang tidak ada harganya. Peace!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar