Mata Uang Kejujuran
“Jangan memaksa orang rajin dan sabar
untuk membantu orang malas dan lalai” –Owen- .
untuk membantu orang malas dan lalai” –Owen- .
Argggggghhhh dosen dosen yang ada disana
tolonglaahh saaayaaaaa.. sekali-lagi dan lagi catatan saya hilang
melalang buana entah kemana setiap menjelang ujian. Siapa lagi pelakunya
ya mahasiswa pemalas itu. maaf saya emosi. Bukan karna saya pelit
meminjamkan catatan saya tapi karna catatan saya dipinjam untuk hal-hal
yang tidak tidak. Ya betul untuk bahan contekan waktu ujian. Ada yang di
foto trus dimasukkan handphone. Sampai difotokopi diperkecil. Catatan
saya sebenarnya akan lebih baik dan saya ikhlas meminjamkannya jika itu
dibuat belajar. Tidakkah anda-anda sadar dan memikirkaan bagaimana
susahnya dan capeknya menulis semua materi dosen mulai dari power point
sampai apa yang keluar di mulut dosen? Dan anda menggunakan catatan
tersebut untuk hal yang kotor. Dasar mahasasiwa pemalas apa
bedanya anda dengan orang yang tidak sekolah dan tidak berpendidikan? Buat apa anda sekolah jika tujuan dan yang anda lakukan seperti itu? . Tujuan anda cari ilmu atau ijazah?. Kok susah sekali sih belajar ilmu?.
bedanya anda dengan orang yang tidak sekolah dan tidak berpendidikan? Buat apa anda sekolah jika tujuan dan yang anda lakukan seperti itu? . Tujuan anda cari ilmu atau ijazah?. Kok susah sekali sih belajar ilmu?.
Maaf saya emosi, karena saya
tidak tahu saya meluapkan dimana ya lebih baik saya meluapkan dalam
tulisan untuk semua mahasiswa di seluruh Indonesia yang terbiasa hidup
malas. Bagaimana anda menjadi agent of change jika dari hal kecil
seperti ini saja anda tidak setia. Terkadang saya juga jengkel melihat
beberapa mahasiswa dengan atribut demo nya berdemonstrasi membela
kepentingan rakyat eh ternyata di kampus sering titip absen,tugas tidak
pernah dikerjakan,waktu ujian ngrepek dan mencotek. Apa yang bisa
dicontoh? Bagaimana kita bisa membangun kultur intelektual?. Bagaiamana
rakyat diluar sana menaruh harapan di punggung anda jika anda sendiri
seperti itu?.
Saya rasa ini pr untuk menteri
pendidikan dan orang tua . Bukan kurikulum nya yang harus dirubah tetapi
mentalnya itu. dari mental tempe berkembang menjadi mental tikus
nantinya. Budaya mencontek dikalangan siswa sepertinya sudah menjadi
budaya yang mendarah daging di bumi pertiwi ini lalu berkembang menjadi
budaya korupsi. Yang akhirnya sekolah hanya dipakai sebagai tempat
formalitas untuk mencari titel bukan wadah untuk membangun genereasi
yang berintelektual. Selain itu ini juga pr untuk dosen,pengajar dan
pengawas tentunya yang harus lebih memutar otak bagaimana caranya budaya
mencontek dapat dihilangkan apapun caranya. Titik.
Sekarang pikirkan saja anak
yang pinta dan rajin terkadang harus memaksa dirinya untuk dispilin dan
perjuangan mereka benar-benar sampai berkeringat darah kalau saya boleh
bilang. Harus kalah dengan mereka anak-anak yang mengandalkan
sogokan,suap,contekan,repek an dan bahkan menggunakan kerabat dalam. Hal
ini sudah menjadi rahasia umum saya rasa. Bisa dilihat ketika masuk
PTN,SMA,SMP Negeri. yang akhirnya mencuri hak teman kita sendiri. Saya
melihat seperti kejujuran tidak ada nilainya di
Indonesia ini dan memang tidak ada harganya. Peace!.
Indonesia ini dan memang tidak ada harganya. Peace!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar